CIMAHI, Nuansa Inspirasi.Com – Wali Kota Cimahi Ngatiyana memilih menahan pembukaan penuh Jembatan Pemkot Cimahi meski masyarakat telah menantikan akses baru tersebut. Keputusan itu diambil setelah pengecekan langsung di lapangan menunjukkan masih adanya pekerjaan lanjutan yang harus diselesaikan.
Ngatiyana menegaskan, Pemerintah Kota Cimahi tidak ingin mengambil risiko hanya demi mengejar target pembukaan. Baginya, kesiapan konstruksi dan keselamatan pengguna jalan jauh lebih penting dibandingkan memaksakan sebuah proyek dibuka sebelum seluruh aspek keamanan benar-benar terpenuhi.
Rencana pembukaan yang sebelumnya dijadwalkan pada Sabtu, 5 September 2026, akhirnya mengalami perubahan. Pemkot Cimahi memutuskan membuka akses secara bertahap mulai Senin, 7 September 2026, sekitar pukul 08.00 WIB.
Pada tahap awal, jembatan hanya diperbolehkan dilintasi kendaraan roda dua dari dua arah. Sementara kendaraan roda empat dan jenis kendaraan lainnya masih harus menunggu hingga pekerjaan lanjutan di sejumlah bagian jembatan rampung dan dinyatakan aman.
“Saya cek lapangan dulu kesiapannya bagaimana. Kalau kita buka tetapi belum siap, nanti terjadi hal yang tidak diinginkan, mungkin kecelakaan, keamanan dan lain sebagainya. Kita harus ambil keputusan,” ujar Ngatiyana saat melakukan monitoring langsung di lokasi.
Menurutnya, masih terdapat sejumlah pekerjaan fisik di sisi kanan dan kiri jembatan. Kondisi tersebut menjadi pertimbangan utama Pemkot Cimahi untuk tidak membuka seluruh akses kendaraan secara bersamaan.
“Insya Allah hari Senin kita buka untuk dua arah yaitu khusus untuk sepeda motor saja. Jadi untuk mobil belum bisa karena ini masih ada pekerjaan lanjutan,” katanya.
Ngatiyana menekankan bahwa percepatan pembangunan tidak boleh diartikan sebagai alasan untuk mengabaikan kualitas konstruksi. Pemerintah tetap memberikan perhatian serius terhadap spesifikasi teknis, material, serta daya tahan infrastruktur agar jembatan dapat digunakan dalam jangka panjang.
"Ia pun mengaku memberikan penekanan kepada pihak kontraktor dan konsultan agar pekerjaan dilakukan sesuai standar. Ngatiyana tidak ingin sebuah jembatan yang baru selesai dibangun justru mengalami kerusakan dalam waktu singkat akibat kualitas pekerjaan yang tidak maksimal," ujarnya.
Selain pengawasan pemerintah dan pelaksana proyek, Ngatiyana juga mengajak masyarakat ikut memahami tahapan pembangunan. Ia meminta publik tidak hanya menilai sebuah proyek dari cepat atau lambatnya penyelesaian, tetapi juga melihat aspek keamanan dan kualitas yang menjadi fondasi utama.
Terkait informasi pembukaan jembatan, Ngatiyana meminta masyarakat dan pengelola media sosial mengacu pada informasi resmi Pemerintah Kota Cimahi. Koordinasi diperlukan agar tidak muncul informasi yang simpang siur dan menimbulkan kekecewaan di tengah masyarakat.
Keputusan membuka Jembatan Pemkot Cimahi secara bertahap menjadi pesan bahwa pemerintah tidak ingin menjadikan proyek infrastruktur sekadar simbol percepatan pembangunan. Keselamatan pengguna jalan tetap ditempatkan sebagai prioritas utama sebelum seluruh akses benar-benar dibuka.
“Jembatan ini bukan sekadar proyek yang harus cepat selesai, tetapi harus kuat, aman dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat,” tandas Ngatiyana. (Aditya)
